Komunitas Sant’Egidio
Thursday, June 3rd, 2010
Mungkin belum banyak umat Katolik di Indonesia yang mendengar nama Komunitas Sant’Egidio. Pertemuan Persahabatan komunitas ini berlangsung 10-12 Juli 2008 lalu di Ciawi, Bogor. Acara ini sekaligus memperingati 40 tahun berdirinya komunitas itu.
Pertemuan dihadiri oleh 10 uskup, puluhan imam, biarawati, anggota Sant’Egidio Indonesia dan 2 perwakilan dari Italia yaitu Valeria Martano (termasuk orang pertama dalam Komunitas di Italia) dan Mgr. Ambrogio Spreafico (Rektor Universitas Kepausan Urbaniana dan calon Uskup Coadjutor Frosinone-Italia).
Komunitas Sant’Egidio didirikan oleh seorang awam Italia bernama Andrea Riccardi pada tahun 1968. Pada waktu itu dia masih berumur 18 tahun. Dalam jangka waktu 40 tahun setelah berdiri, komunitas ini sudah hadir di banyak negara di lima benua, dan pelayanannya merambah banyak bidang kehidupan manusia sesuai dengan spiritualitas, visi, dan misi komunitas tersebut.
Spiritualitas komunitas ini bisa diringkas dalam dua kata, yaitu Persahabatan dan Persaudaraan. Menurut Mgr. Ambrogio Spreafico, spiritualitas persahabatan dan persaudaraan merupakan salah satu spiritualitas yang penting dalam hidup Kristiani karena semangat ini menyentuh kehidupan semua orang dari berbagai lapisan masyarakat dan semua spiritualitas, bukan hanya spiritualitas Kristiani saja.
Persahabatan dan persaudaraan yang sejati adalah persahabatan dan persaudaraan di dalam Tuhan. Oleh karena itu mereka menjabarkan semangat ini dalam cara hidup dan pelayanan, yaitu untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Dan memang melalui hal ini, mereka bisa merealisasikan persahabatan dan persaudaraan dengan berbagai bangsa, agama dan aliran, yang mereka sebut sebagai persatuan di sekeliling Tuhan
Peringatan 40 tahun berdirinya komunitas ini dirayakan dengan berbagai acara di seluruh dunia, termasuk berdoa bersama Paus di Basilika St. Bartolomeus, Roma, dan Pertemuan Persaudaraan dan Persahabatan di Indonesia.
Dalam rangka pesta 40 tahun ini, Andrea Riccardi sebagai pendiri, mengambil tema: KASIH-NYA TIADA BATAS, yaitu kasih dan sukacita sebagai orang Kristen. Suatu kasih dan sukacita yang bertentangan dengan: kesedihan, sikap pesimisme dari dunia zaman sekarang, ketakutan sebagai orang Kristen untuk mengungkapkan jati diri dan iman, ketidak adilan, individualisme dan sebagainya.
Untuk mewujudkan kasih dan sukacita ini, memang bukanlah hal yang mudah. Khususnya di dunia zaman sekarang yang kental diwarnai oleh konsumerisme, diktatorisme dll., yang kesemuanya membawa orang pada ketidakpuasan, merasa diri lebih baik dari yang lain, kesombongan sehingga merasa dialah yang memiliki jawaban yang paling tepat terhadap segala persoalan, ketakutan yang mendalam, kesedihan, kekecewaan dan sebagainya.
Mgr. Ambrogio mengambil satu contoh dari Kitab Suci, yaitu dari Injil Lukas 18:18-30. Perikop ini berbicara tentang orang kaya yang bersedih hati setelah Yesus menyuruh dia membuang semua hartanya jika dia mau sungguh mengikuti Yesus. Dia merasa sudah memiliki segalanya dan sudah melakukan semuanya, maka maksud yang sebenarnya dia datang kepada Yesus adalah untuk pamer agar mendapatkan pujian. Dari peristiwa ini kita bisa melihat bahwa apa yang dia peroleh di dunia belum memuaskan dia sepenuhnya, sehingga dia masih mencari konfirmasi dari Yesus. Tetapi kenyataannya, dia disuruh membuang semua harta duniawi itu dan hal ini membuatnya merasa sedih.
Orang Kristen yang sesungguhnya harus memancarkan kasih dan sukacita karena adanya Kristus di dalam dirinya atau dia harus memancarkan Kristus sendiri, bukannya terikat pada apa yang ada dan berasal dari dunia.
Dari penjelasan di atas, kita melihat bahwa dunia tempat kita hidup ini merupakan dunia yang sakit dan butuh untuk diubah supaya kita bisa memancarkan kembali kasih dan sukacita Kristus di dunia. Kunci utama untuk mengubah dunia adalah dengan mengubah manusianya terlebih dahulu. Inilah tugas kita sebagai orang Kristen. Terlebih dahulu kita harus mengubah diri sendiri, baru kemudian membantu sesama untuk berubah.
Secara khas menurut spiritualitas persahabatan dan persaudaraan dari komunitas ini, tugas ini kemudian diungkapkan dalam visi dan misi konkret yaitu:
- Pembinaan kaum muda supaya mereka dapat melayani dunia dengan penuh semangat, menurut kehendak Allah.
- Menjadikan Kitab Suci sebagai Sabda yang menghidupkan, sebagai pendamping hidup. Untuk menegaskan pentingnya peran Kitab Suci dalam kehidupan, Mgr. Ambrogio mengutip kata-kata St. Yohanes Krisostomus. St. Yohanes suatu kali membantah pendapat yang mengatakan bahwa Kitab Suci itu hanya untuk para rahib. Menurutnya, justru yang lebih membutuhkan sebenarnya adalah kaum awam yang dalam kehidupannya sehari-hari penuh dengan banyak hal. Awam tanpa Kitab Suci seperti seorang manusia yang kosong tanpa hati.
Adapun sarana di dalam Komunitas Sant’Egidio yang disediakan untuk membantu anggotanya mengubah diri:
- Doa malam komunitas setiap hari. Doa ini mirip dengan Ibadat Sore atau Vesper dengan lagu-lagu dan pendarasan Mazmur secara Gregorian. Di dalamnya ada pengajaran dari Kitab Suci.
- Pendalaman Kitab Suci sebulan dua kali dengan bahan yang dikirim dari Roma.
- Pembinaan khusus yang dilakukan dua kali setahun, sekali diadakan di Italia dan sekali lagi dilakukan di Indonesia oleh pembimbing yang datang dari Italia.
- Konvensi tahunan yang diadakan sesuai dengan kondisi dan jumlah anggota, sejauh ini di Indonesia diadakan di dua tempat yaitu di Kupang dan di Bogor.
- Bahan renungan harian yang ditulis oleh Mgr. Vincenzo Palia, Uskup dari Terni, Italia.
Sementara itu, dalam pelayanannya komunitas ini menamakan diri mereka sebagai “Amici dei Poveri” = teman dari orang-orang miskin. Tentunya hal ini tidak bisa lepas dari situasi dan kondisi Italia 40 tahun lalu, saat komunitas ini pertama kali berdiri. Saat itu, banyak sekali orang miskin yang menderita di Italia. Penderitaan mereka menyentuh hati Andrea Riccardi yang kemudian mendirikan komunitas ini untuk melayani mereka. Jadi, orang miskin merupakan sentral dari hidup berkomunitas. Bagi mereka orang miskin, adalah mereka yang paling membutuhkan:
- Sabda Allah
- Untuk bertumbuh dalam iman
- Untuk menerima kabar gembira
- Untuk ditolong yaitu secara khusus menjadikan mereka sebagai sahabat
Jadi, pelayanan kepada orang miskin ini bukan hanya sekadar karya sosial belaka, tetapi juga memanusiakan orang miskin, menjadikan mereka sahabat karena di dalam mereka, Allah juga ada. Inilah gambaran pastoral Konsili Vatikan II menurut Yohanes Paulus II yang ingin dijalankan oleh komunitas ini. Paus Yohanes Paulus II mempraktekkannya sendiri di dalam pelayanan pontifikatnya: berbicara, membimbing, mengajar dan memandang yang dilayani. Memandang artinya tidak menganggap rendah sama sekali yang dilayani. Jadi bagi mereka, orang miskin bukan hanya orang yang harus kita tolong, tetapi bagian dari keluarga yang sama yaitu Keluarga Allah, satu keluarga besar yang sama. Melalui orang miskin kita juga bisa belajar secara efektif bagaimana mengharapkan yang terbaik untuk sesama, tanpa mengharapkan balas jasa atau pahala.
Diantara berbagai bentuk pelayanan Komunitas Sant’Egidio adalah:
- Doa Malam Komunitas yang terbuka untuk umum. Doa ini di Roma-Italia menjadi sangat terkenal sehingga banyak umat yang bergabung dengan mereka setiap hari. Acara doa ini juga merupakan sarana untuk menarik anggota baru.
- Sekolah Damai yang bertujuan mendidik anak-anak miskin dan terlantar tentang kehidupan yang bermoral, tentang kesatuan di dalam perbedaan, bagaimana bekerja sama dalam perbedaan, tentang lingkungan hidup, toleransi antar agama dan sebagainya. Di Indonesia sendiri sudah ada 15 Sekolah Damai dengan 900 murid. Dan guru di sekolah ini adalah para anggota komunitas sendiri.
- Program Anak Asuh yang bukan hanya sekadar memberikan bea siswa, tetapi juga membiayai kehidupan si anak.
- Sahabat Mereka Yang di Jalanan. Mereka memulai pelayanan ini dengan mengambil teladan orang Samaria yang baik hati. Pelayanan kepada orang di jalanan dilakukan dengan menyiapkan makanan untuk mereka setiap 2 minggu sekali. Acara khusus Natal bersama orang miskin: Ibadat bersama dan makan siang bersama. Untuk tahun 2007 yang lalu, komunitas ini di Indonesia berhasil mengundang 3000 orang miskin untuk acara Natal, dan secara total, komunitas ini di seluruh dunia berhasil mengundang 100.000 orang miskin.
- Pelayanan khusus untuk bekas penderita kusta yang dikucilkan dari masyarakat di luar kota Yogyakarta. Komunitas di Yogya mengunjungi sahabat bekas penderita kusta ini setiap seminggu sekali. Mereka diajak doa dan makan bersama. Yang utama dari misi komunitas ini adalah menawarkan persahabatan dan persaudaraan.
- Moratorium untuk menolak hukuman mati. Kegiatan yang dilakukan yaitu dengan mengumpulkan tanda tangan untuk menolak hukuman mati, mengadakan pawai dan dialog. Salah satu aktivitas mereka yang terkenal di Indonesia adalah usaha untuk membatalkan hukuman mati Tibo cs. Walaupun usaha itu mengalami kegagalan, tetapi kegagalan ini tidak menyurutkan niat dan semangat mereka.
- Pelayanan kepada Lansia, khususnya di Panti Jompo, yaitu dengan memberikan kasih dan perhatian melalui kehadiran mereka di sana, menemani dan mengajak rekreasi.
Didalam pertemuan di Ciawi yang dihadiri oleh uskup, imam, biarawan dan biarawati tersebut, Komunitas Sant’ Egidio mengajak semua peserta untuk saling berbagi persaudaraan rohani yang bersumberkan pada Roh Kudus. Komunitas Sant’Egidio ingin mengembangkan hidup berkomunitas bekerja sama dengan semuanya dalam kehidupan Gereja. Dan hidup berkomunitas dianggap sebagai satu cara yang aktual dan efektif untuk menjawab kebutuhan dunia yang menderita.
Refleksi Pribadi: Selama 3 hari saya mengikuti acara pertemuan persahabatan dan persaudaraan Sant’Egidio ini, saya tersentuh oleh beberapa hal :
- Keberanian, yaitu keberanian dari Komunitas Sant’Egidio Indonesia untuk mengadakan pertemuan ini, di mana pesertanya adalah para uskup, para iImam, biarawan dan biarawati. Suatu keberanian yang berdasarkan pada kesadaran, keyakinan, dan cinta pada dan sebagai anggota Komunitas.
- Cinta dan keyakinan yang teguh yang didasari oleh pengenalan dan rasa memiliki komunitas. Hal ini saya lihat baik melalui percakapan maupun melalui perbuatan sepanjang pertemuan dan melalui sharing yang mereka berikan selama pertemuan. Melalui percakapan, saya melihatnya sewaktu saya mewawancarai salah satu anggota yang baru masuk 2 tahun yang lalu. Sedangkan melalui sharing yang diberikan, saya menjadi tahu bagaimana mereka harus berjuang untuk menghayati panggilan menjadikan setiap orang sebagai sahabat dan saudara mereka, khususnya para pengemis dan gelandangan di jalanan. Sering kali mereka ditolak, dicaci maki, tidak dianggap dan sebagainya, tetapi mereka berjuang terus dengan kasih, sampai akhirnya mereka sungguh diterima sebagai sahabat dan saudara. Bahkan ada pengalaman di panti jompo, ada satu anggota komunitas yang sungguh dicari dan dibutuhkan oleh seorang ibu tua.
Dari pengalaman ini, saya melihat bahwa mereka sungguh mengenal secara mendalam, sehingga dengan penuh keyakinan menghayati spiritualitas mereka dalam kehidupan doa dan dalam kehidupan pelayanan mereka yang sesuai dengan spiritualitas itu. Di Indonesia, komunitas ini dipimpin oleh Sdri. Priska. Bila Anda ingin mengetahui lebih jauh komunitas Sant’Egidio silakan berkirim email ke wanttoknowsemore@fbpages.info Untuk website resmi dari komunitas ini, Anda bisa akses di http://www.santegidio.org
- Tulisan Sr. Martina, P.Karm
