<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catholic Daily Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.catholicdailyindonesia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.catholicdailyindonesia.com</link>
	<description>Melangkah Dalam Kasih Kristus</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 13:57:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sulitnya Memaafkan</title>
		<link>http://www.catholicdailyindonesia.com/sulitnya-memaafkan/</link>
		<comments>http://www.catholicdailyindonesia.com/sulitnya-memaafkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 13:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.catholicdailyindonesia.com/?p=1255</guid>
		<description><![CDATA[Pagi yang indah. Usai membuka tirai jendela kamar, Dewi masih sempat menatap mawar-mawar indah yang bermekaran di bawah jendela kamarnya. Hari ini hari pertama ia ada di rumah pada hari kerja, setelah sekian tahun ia berkantor di sebuah gedung megah di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat. Peristiwa menyakitkan yang ia terima di kantor, yang membuatnya “terpental” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi yang indah. Usai membuka tirai jendela kamar, Dewi masih sempat menatap mawar-mawar indah yang bermekaran di bawah jendela kamarnya. Hari ini hari pertama ia ada di rumah pada hari kerja, setelah sekian tahun ia berkantor di sebuah gedung megah di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat.</p>
<p>Peristiwa menyakitkan yang ia terima di kantor, yang membuatnya “terpental” dan harus keluar dari pekerjaan, masih seperti rekaman video yang terus berputar ulang di benaknya. Duh, siapa yang tak sakit hati menerima fitnah untuk suatu kesalahan yang tidak ia lakukan? Siapa yang tidak sakit hati menerima limpahan kesalahan orang lain yang hanya mencari kambing hitam untuk menyelamatkan posisinya sendiri? “Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa tidak ada orang yang mempercayai aku, dan malah mempercayai orang lain yang tidak jujur meski ia memang lebih pintar berkata-kata? Sakit sekali rasanya hati ini.”</p>
<p>Tentu saja sakit sekali. Menjadi “pesakitan” untuk kesalahan yang tidak kita lakukan adalah hal yang sulit kita terima. <em>Boro-boro</em> memaafkan apalagi mendoakan orang yang menyakiti, kalau bisa rasanya ingin membalas sakit hati itu dengan balik menyakiti sesakit-sakitnya. Biar dia juga tahu, betapa tidak enaknya apa yang kita rasakan akibat ulahnya.</p>
<p>Tapi, tunggu dulu. Bukankah kita adalah milik Kristus. Apa bedanya kita dengan orang-orang lain yang tidak pernah mengenal Kristus, kalau kita juga berlaku sama seperti mereka… menyimpan dan membalaskan dendam dan sakit hati? Apa gunanya bahkan sekadar memaki dan melontarkan sumpah serapah setiap kali ingatan yang menyakitkan itu mendera? “Allah, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan…” Itulah teladan yang kita terima.</p>
<p>Pandanglah salib yang telah menjadi tanda kemenangan kita. Kristus pun harus menerima penderitaan yang hebat, menerima hukuman yang begitu keji, untuk kesalahan yang tidak pernah Ia lakukan. Apakah Ia mengeluh? Apakah Ia memaki-maki orang-orang yang menyiksa dan memakunya di kayu salib? Apakah Ia mengutuk dan membalas dendam untuk segala penderitaan yang harus Ia terima? Bukankah teladan yang Ia berikan sudah begitu jelas?</p>
<p>Dewi menghela napas. Setiap kali rasa “sakit” itu kembali mendera, tanpa ditunda lagi ia segera bersujud di hadapan-Nya. &#8220;Ah, lihatlah derita-Nya yang tak terbayangkan. Sungguh, apa yang kurasakan ini tidaklah seberapa,&#8221; ujarnya dalam hati. Ia telah menghapusnya dengan bilur-bilur mengerikan yang harus ia tanggung.</p>
<p><em>Berdoalah agar engkau bisa memaafkan orang yang telah menyakitimu. Meski sulit, buah dari hal itu adalah rasa lega dan bebas yang akan membuatmu mampu merasakan sukacita yang penuh akan kasih-Nya.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.catholicdailyindonesia.com/sulitnya-memaafkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Bersyukur</title>
		<link>http://www.catholicdailyindonesia.com/indahnya-bersyukur/</link>
		<comments>http://www.catholicdailyindonesia.com/indahnya-bersyukur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 15:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.catholicdailyindonesia.com/?p=1250</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Romo menceritakan kisah ini. Alkisah ada sepasang suami istri. Sampai usia 80 tahun, pasangan ini hidup makmur, harta mereka berlimpah dan mereka hidup bahagia. Tapi selama 5 tahun terakhir, sang suami sakit. Biaya yang diperlukan untuk mengobati sakitnya sangat besar, sehingga harta milik mereka lama-lama tergerogoti. Kemalangan rupanya belum berakhir karena satu-satunya anak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang Romo menceritakan kisah ini. Alkisah ada sepasang suami istri. Sampai usia 80 tahun, pasangan ini hidup makmur, harta mereka berlimpah dan mereka hidup bahagia. Tapi selama 5 tahun terakhir, sang suami sakit. Biaya yang diperlukan untuk mengobati sakitnya sangat besar, sehingga harta milik mereka lama-lama tergerogoti. Kemalangan rupanya belum berakhir karena satu-satunya anak yang dimiliki pasangan ini juga meninggal dunia.</p>
<p>Dalam keadaan sedih, sang istri memohon agar suaminya berdoa memohon kepada Allah yang selama ini telah begitu bermurah hati kepada mereka, untuk memulihkan segala yang baik yang pernah mereka rasakan. Sang suami termenung. Dengan penuh kasih ia menatap istrinya dan mengatakan, “Istriku, berapa lama kita sudah mengalami kemakmuran dan kelimpahan?” “Sampai usiamu yang ke-80, suamiku,” jawab istrinya. “Itu artinya, selama 80 tahun aku telah menikmati segala yang baik, dan kalau selama 5 tahun terakhir ini aku mengalami segala hal yang buruk dalam hidupku, itu belumlah seberapa dibanding masa-masa menyenangkan yang telah kulewati. Aku malu kalau harus mengeluh kepada Tuhan,” kata sang suami seraya menggenggam tangan istrinya. Sang istri mengusap air mata, memandang suaminya, dan mengatakan, “Kamu benar, suamiku. Kita tidak seharusnya mengeluh. Justru seharusnya kita bersyukur, karena dalam semua kesedihan ini, kita jadi begitu dekat dengan Tuhan.”</p>
<p>Bersyukur. Itulah yang harus selalu kita lakukan. Bukan hanya dalam keadaan senang, tetapi juga dalam keadaan susah. Sama seperti Tuhan kita yang menderita dan disebut “<em>The Man of Sorrow</em>”. Begitulah sebagai pengikutnya kita juga harus siap menderita. Apapun bentuk penderitaan yang kita alami: Sakit yang tak kunjung sembuh, hutang yang tak kunjung lunas, karier yang mentok, fitnah yang tak terduga ternyata harus diterima – semua itu tidak sepatutnya membuat kita menjauh dari Tuhan, atau bahkan menghujat-Nya. Sebaliknya… itulah cara Dia untuk menarik kita lebih dekat kepada-Nya. Pandanglah wajah-Nya yang penuh cinta. Percayalah, dalam keadaan apapun, Ia tetap mengasihi kita dan tidak akan pernah membiarkan kita melalui segalanya sendirian.</p>
<p>Tuhan memberkati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.catholicdailyindonesia.com/indahnya-bersyukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KTM Rayakan Pesta Perak</title>
		<link>http://www.catholicdailyindonesia.com/ktm-rayakan-pesta-perak/</link>
		<comments>http://www.catholicdailyindonesia.com/ktm-rayakan-pesta-perak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 02:06:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kilas Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan berkomunitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.catholicdailyindonesia.com/?p=1239</guid>
		<description><![CDATA[Pekan lalu suasana lebih meriah terasa menyelimuti Lembah Karmel, Cikanyere, Jawa Barat. Januari ini Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) merayakan ulang tahunnya yang ke-25. Perayaan Pesta Perak tersebut dihadiri oleh lebih dari 1.000 anggota KTM dari berbagai pelosok tanah air, dan bahkan dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Filipina, Belanda, dan Australia. Selain itu, hadir pula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekan lalu suasana lebih meriah terasa menyelimuti Lembah Karmel, Cikanyere, Jawa Barat. Januari ini Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) merayakan ulang tahunnya yang ke-25. Perayaan Pesta Perak tersebut dihadiri oleh lebih dari 1.000 anggota KTM dari berbagai pelosok tanah air, dan bahkan dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Filipina, Belanda, dan Australia. Selain itu, hadir pula Uskup Banjarmasin, Mgr. Dr. Petrus Boddeng Timang.</p>
<p>Menurut anggota Tim Gembala KTM, Giovanny Karamoy, KTM terlahir pada masa yang sulit, ketika banyak hal bertentangan dengan iman Katolik. Perhatian banyak orang tersedot pada “kebutuhan-kebutuhan duniawi”, sehingga sulit memberi waktu pada kegiatan-kegiatan rohani. Bersyukur meski di tengah situasi seperti ini KTM tetap mampu eksis hingga usianya yang ke-25.</p>
<p>KTM didirikan oleh Rm. Yohanes Indrakusuma O.Carm., sebagai komunitas awam yang menghayati spiritualitas karmelit dan karismatik di tengah hiruk pikuk dunia saat ini. Komunitas ini terlahir dalam suatu retret yang diadakan pada 9-11 Januari 1987 di Ngadireso, Malang. Terinspirasi dari komunitas Kristiani pertama (Kis 2:41-47), komunitas ini pun berusaha menghayati hidup Kristiani yang sejati berdasarkan misteri agung cinta Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus.</p>
<p>Melalui komunitas ini diharapkan para anggotanya dapat tumbuh dan terus berkembang dalam hidup baru dalam Roh di tengah zaman yang terus berubah dan penuh tantangan. Hidup dan karya KTM pun dijiwai oleh spiritualitas Pembaharuan Hidup dalam Roh (karismatik) sehingga selalu berupaya untuk mengandalkan bimbingan dan kuasa Roh Kudus. Dan karena terlahir dan dibesarkan dalam iklim Karmel, maka KTM juga menghayati spiritualitas Karmelit dengan hidup keheningan dan kontemplasi-nya. Kedua spiritualitas itulah yang menjadi satu kesatuan dan memperkaya kehidupan KTM.**</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.catholicdailyindonesia.com/ktm-rayakan-pesta-perak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

