<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catholic Daily Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.catholicdailyindonesia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.catholicdailyindonesia.com</link>
	<description>Melangkah Dalam Kasih Kristus</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Mar 2012 09:18:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Terbebas dari Belenggu Masa Silam</title>
		<link>http://www.catholicdailyindonesia.com/terbebas-dari-belenggu-masa-silam/</link>
		<comments>http://www.catholicdailyindonesia.com/terbebas-dari-belenggu-masa-silam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 09:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.catholicdailyindonesia.com/?p=1259</guid>
		<description><![CDATA[Masa Prapaskah adalah masa 40 hari berpantang dan berpuasa. Ini diambil dari 40 hari masa Yesus berpuasa di padang gurun. Selayaknya ini juga dilakukan oleh setiap orang beriman. Masa silam yang dikuasai oleh dosa seharusnya tidaklah terus menerus menguasai seseorang. Karena itu, perlu dilakukan upaya apapun – khususnya melalui pantang dan puasa &#8212; agar orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Masa Prapaskah adalah masa 40 hari berpantang dan berpuasa. Ini diambil dari 40 hari masa Yesus berpuasa di padang gurun. Selayaknya ini juga dilakukan oleh setiap orang beriman.</p>
<p>Masa silam yang dikuasai oleh dosa seharusnya tidaklah terus menerus menguasai seseorang. Karena itu, perlu dilakukan upaya apapun – khususnya melalui pantang dan puasa &#8212; agar orang tidak lagi dikuasai oleh masa silamnya yang buruk. Dengan melakukan pertobatan, secara manusiawi seseorang bisa terbebas dari gangguan masa silamnya.</p>
<p>Sebenarnya pertobatan ini bisa dilakukan sepanjang waktu. Tetapi gereja sebagai perkumpulan umat merasa perlu menetapkan waktu untuk bersama-sama melakukan pertobatan. Untuk itu, gereja telah menetapkan masa pertobatan bersama, yaitu pada hari Jumat sepanjang tahun. Karena itu pula pada hari-hari tersebut orang tidak makan daging. Kecuali bila ada pesta atau perayaan, bisa saja ada kekecualian. Selain hari Jumat sepanjang tahun ini, gereja menetapkan masa pantang dan puasa setahun sekali yang berlangsung mulai dari Rabu Abu hingga Minggu Palma.</p>
<p>Jadi sebenarnya, masa pertobatan adalah masa bagi seseorang untuk meninggalkan masa silamnya dan memulai hidup baru. Allah yang Maha Pengasih memberikan kesempatan ini kepada setiap orang untuk tidak terus menerus diganggu oleh masa silamnya yang kelam.</p>
<p>Ketika berpuasa selama 40 hari Yesus bertempur dengan 3 godaan utama yang juga masih mengganggu hidup kita. Melalui ketiga ujian itu kita belajar bahwa:</p>
<ol start="1">
<li>Hidup bukan dari roti saja. Hidup memerlukan hal lain selain materi.</li>
<li>Jangan mencobai Tuhan Allahmu. Apalagi dengan pamer untuk sesuatu yang sia-sia.</li>
<li>Hidup ini adalah untuk memuliakan Allah. Jadi, jagalah agar apapun yang kita miliki adalah untuk memuliakan Allah, bukan untuk hal-hal lain.</li>
</ol>
<p>Kecenderungan materi, mencari pengakuan orang, menyalahgunakan jabatan… hal-hal inilah yang sudah dikalahkan</p>
<p>Keluarga adalah sel inti yang menentukan baik buruknya gereja. Tapi sekarang ini, justru keluargalah yang cenderung menjadi terlalu fokus terhadap hal-hal yang bersifat material. Lihat saja bagaimana orangtua sangat mendukung anaknya untuk menjadi populer, tenar, diakui, bahkan bila perlu bisa menciptakan sensasi. Keluarga tidak menggunakan fungsi atau kedudukannya untuk melayani Allah, tetapi lebih untuk menyelenggarakan kepentingan duniawi.</p>
<p>Mari gunakan 40 hari ini untuk menanggalkan segala kecenderungan pribadi yang tidak baik. Sudah saatnya tidak membiarkan diri kita diganggu oleh kecenderungan-kecenderungan yang tidak baik, dan tidak lagi diganggu oleh masa silam yang kelam.</p>
<p><em>- Disarikan dari khotbah Romo Yohanes Driyanto, Katedral Bogor, Minggu, 19 Februari 2012.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.catholicdailyindonesia.com/terbebas-dari-belenggu-masa-silam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sulitnya Memaafkan</title>
		<link>http://www.catholicdailyindonesia.com/sulitnya-memaafkan/</link>
		<comments>http://www.catholicdailyindonesia.com/sulitnya-memaafkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 13:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.catholicdailyindonesia.com/?p=1255</guid>
		<description><![CDATA[Pagi yang indah. Usai membuka tirai jendela kamar, Dewi masih sempat menatap mawar-mawar indah yang bermekaran di bawah jendela kamarnya. Hari ini hari pertama ia ada di rumah pada hari kerja, setelah sekian tahun ia berkantor di sebuah gedung megah di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat. Peristiwa menyakitkan yang ia terima di kantor, yang membuatnya “terpental” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi yang indah. Usai membuka tirai jendela kamar, Dewi masih sempat menatap mawar-mawar indah yang bermekaran di bawah jendela kamarnya. Hari ini hari pertama ia ada di rumah pada hari kerja, setelah sekian tahun ia berkantor di sebuah gedung megah di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat.</p>
<p>Peristiwa menyakitkan yang ia terima di kantor, yang membuatnya “terpental” dan harus keluar dari pekerjaan, masih seperti rekaman video yang terus berputar ulang di benaknya. Duh, siapa yang tak sakit hati menerima fitnah untuk suatu kesalahan yang tidak ia lakukan? Siapa yang tidak sakit hati menerima limpahan kesalahan orang lain yang hanya mencari kambing hitam untuk menyelamatkan posisinya sendiri? “Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa tidak ada orang yang mempercayai aku, dan malah mempercayai orang lain yang tidak jujur meski ia memang lebih pintar berkata-kata? Sakit sekali rasanya hati ini.”</p>
<p>Tentu saja sakit sekali. Menjadi “pesakitan” untuk kesalahan yang tidak kita lakukan adalah hal yang sulit kita terima. <em>Boro-boro</em> memaafkan apalagi mendoakan orang yang menyakiti, kalau bisa rasanya ingin membalas sakit hati itu dengan balik menyakiti sesakit-sakitnya. Biar dia juga tahu, betapa tidak enaknya apa yang kita rasakan akibat ulahnya.</p>
<p>Tapi, tunggu dulu. Bukankah kita adalah milik Kristus. Apa bedanya kita dengan orang-orang lain yang tidak pernah mengenal Kristus, kalau kita juga berlaku sama seperti mereka… menyimpan dan membalaskan dendam dan sakit hati? Apa gunanya bahkan sekadar memaki dan melontarkan sumpah serapah setiap kali ingatan yang menyakitkan itu mendera? “Allah, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan…” Itulah teladan yang kita terima.</p>
<p>Pandanglah salib yang telah menjadi tanda kemenangan kita. Kristus pun harus menerima penderitaan yang hebat, menerima hukuman yang begitu keji, untuk kesalahan yang tidak pernah Ia lakukan. Apakah Ia mengeluh? Apakah Ia memaki-maki orang-orang yang menyiksa dan memakunya di kayu salib? Apakah Ia mengutuk dan membalas dendam untuk segala penderitaan yang harus Ia terima? Bukankah teladan yang Ia berikan sudah begitu jelas?</p>
<p>Dewi menghela napas. Setiap kali rasa “sakit” itu kembali mendera, tanpa ditunda lagi ia segera bersujud di hadapan-Nya. &#8220;Ah, lihatlah derita-Nya yang tak terbayangkan. Sungguh, apa yang kurasakan ini tidaklah seberapa,&#8221; ujarnya dalam hati. Ia telah menghapusnya dengan bilur-bilur mengerikan yang harus ia tanggung.</p>
<p><em>Berdoalah agar engkau bisa memaafkan orang yang telah menyakitimu. Meski sulit, buah dari hal itu adalah rasa lega dan bebas yang akan membuatmu mampu merasakan sukacita yang penuh akan kasih-Nya.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.catholicdailyindonesia.com/sulitnya-memaafkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Bersyukur</title>
		<link>http://www.catholicdailyindonesia.com/indahnya-bersyukur/</link>
		<comments>http://www.catholicdailyindonesia.com/indahnya-bersyukur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 15:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.catholicdailyindonesia.com/?p=1250</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Romo menceritakan kisah ini. Alkisah ada sepasang suami istri. Sampai usia 80 tahun, pasangan ini hidup makmur, harta mereka berlimpah dan mereka hidup bahagia. Tapi selama 5 tahun terakhir, sang suami sakit. Biaya yang diperlukan untuk mengobati sakitnya sangat besar, sehingga harta milik mereka lama-lama tergerogoti. Kemalangan rupanya belum berakhir karena satu-satunya anak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang Romo menceritakan kisah ini. Alkisah ada sepasang suami istri. Sampai usia 80 tahun, pasangan ini hidup makmur, harta mereka berlimpah dan mereka hidup bahagia. Tapi selama 5 tahun terakhir, sang suami sakit. Biaya yang diperlukan untuk mengobati sakitnya sangat besar, sehingga harta milik mereka lama-lama tergerogoti. Kemalangan rupanya belum berakhir karena satu-satunya anak yang dimiliki pasangan ini juga meninggal dunia.</p>
<p>Dalam keadaan sedih, sang istri memohon agar suaminya berdoa memohon kepada Allah yang selama ini telah begitu bermurah hati kepada mereka, untuk memulihkan segala yang baik yang pernah mereka rasakan. Sang suami termenung. Dengan penuh kasih ia menatap istrinya dan mengatakan, “Istriku, berapa lama kita sudah mengalami kemakmuran dan kelimpahan?” “Sampai usiamu yang ke-80, suamiku,” jawab istrinya. “Itu artinya, selama 80 tahun aku telah menikmati segala yang baik, dan kalau selama 5 tahun terakhir ini aku mengalami segala hal yang buruk dalam hidupku, itu belumlah seberapa dibanding masa-masa menyenangkan yang telah kulewati. Aku malu kalau harus mengeluh kepada Tuhan,” kata sang suami seraya menggenggam tangan istrinya. Sang istri mengusap air mata, memandang suaminya, dan mengatakan, “Kamu benar, suamiku. Kita tidak seharusnya mengeluh. Justru seharusnya kita bersyukur, karena dalam semua kesedihan ini, kita jadi begitu dekat dengan Tuhan.”</p>
<p>Bersyukur. Itulah yang harus selalu kita lakukan. Bukan hanya dalam keadaan senang, tetapi juga dalam keadaan susah. Sama seperti Tuhan kita yang menderita dan disebut “<em>The Man of Sorrow</em>”. Begitulah sebagai pengikutnya kita juga harus siap menderita. Apapun bentuk penderitaan yang kita alami: Sakit yang tak kunjung sembuh, hutang yang tak kunjung lunas, karier yang mentok, fitnah yang tak terduga ternyata harus diterima – semua itu tidak sepatutnya membuat kita menjauh dari Tuhan, atau bahkan menghujat-Nya. Sebaliknya… itulah cara Dia untuk menarik kita lebih dekat kepada-Nya. Pandanglah wajah-Nya yang penuh cinta. Percayalah, dalam keadaan apapun, Ia tetap mengasihi kita dan tidak akan pernah membiarkan kita melalui segalanya sendirian.</p>
<p>Tuhan memberkati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.catholicdailyindonesia.com/indahnya-bersyukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

