Merasul dengan senyuman
Thursday, June 10th, 2010Tanggal 23 Mei 2010, tepat pada Hari Raya Pentekosta, Suster Patrisia dari Kongregasi Hermanas de Niño Jesús Pobre (Di Indonesia dikenal sebagai PIJ, Suster- Suster Sang Timur) merayakan Pesta Perak Hidup Membiara di sebuah Kapela di pinggiran kota Lima Peru. Di Kapela Santa Rosa yang sederhana ini Sr. Patricia, PIJ memperbaharui kaulnya untuk tetap mengikuti Yesus dalam kehidupannya sebagai seorang misionaris di Lima Perú.
Dalam perayaan ini Pastor Walter Malca Rodas, CSSr
mengajak para pemuda dan pemudi yang hadir dalam misa supaya berani menjadi saksi Kristus seperti Hermana Patricia yang karena kekuatan Roh Kudus datang jauh-jauh dari Indonesia ke sebuah kampung kecil di pinggiran kota Lima. Salah satu panggilan sebagai orang kristen adalah menjadi saksi Kristus dalam Roh Kudus.
Mukjizat hidup dalam Roh Kudus itu hadir dalam para suster ini yang datang dari berbagai penjuru dunia, dan bekerja dengan anak-anak miskin yang tidak mempunyai makanan. Ini adalah sebuah mukjizat nyata dari kekuatan Roh Kudus yang membuat Suster Patrisia bertahan selama 25 tahun dalam biara.
Suster Patrisia adalah seorang puteri Jawa, kelahiran Madura dan dibesarkan di Jember Jawa Timur. Lahir dari sebuah keluarga guru Aloysius Soedarsono dan Ibu Margareta (keduanya telah meninggal). Nama aslinya adalah Theresia Maria Erni Widyastuti merupakan anak ke empat dari delapan bersaudara. Panggilan hidup membiara muncul ketika dia mengikuti Retret Panggilan yang pada saat itu belum tahu juga apa maksud retret panggilan. Setelah mengikuti Retret Panggilan ada semacam panggilan dalam dirinya untuk menekuni hidup membiara ini. Karena itu dia memutuskan untuk masuk biara dan dia memilih Tarekat Sang Timur sebagai tempat dia mewujudkan panggilannya itu.
Hermana Patrisia (begitu dipanggil dalam Bahasa Spanyol) bekerja di sebuah Rumah Makan Anak-Anak yang bernama Comedor Infantil José Luis Fernandez.
Mereka menolong anak-anak miskin ini dengan memberi mereka makan setiap pagi dan siang. Sekitar 110 anak yang datang untuk makan pagi dan siang hanya dengan membawa satu sol (soles adalah mata uang Perú, satu dollar Amerika seharga 2,8 soles Peru). Lingkungan di mana para suster ini tinggal merupakan daerah di mana keluarga-keluarga miskin di kota Lima tinggal.
Untuk mengurangi beban hidup mereka terutama untuk menolong anak-anak Suster Patrisia bersama teman-temannya memberi anak-anak miskin ini makan. Makan dengan uang satu sol sebenarnya tidak berarti apa-apa di Peru. Demi masa depan anak-anak ini para Suster berusaha mendukung mereka dengan makanan yang bergisi karena bantuan dari para penderma dan paroki.
Suster Patrisia terkenal karena senyumannya yang manis dan ramah. Pastor Walter mengatakan senyuman Suster Patrisia merupakan
suatu kerasulan yang sangat menghibur anak-anak di tengah pergulatan hidup mereka. Dalam kesederhanaannya dia mendekati anak-anak miskin ini supaya mereka tetap bersemangat ke sekolah dan tetap sehat. Di tengah kesulitan-kesulitannya sebagai misionaris asing di tempat yang miskin, dengan Bahasa Spanyol yang tidak gampang, dia bisa memberikan harapan kepada anak-anak ini untuk tetap belajar dan hidup sehat demi masa depan mereka.
Misa Pesta Perak Hidup Membiara Suster Patricia ini juga dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia, Yosef Berty Fernandez. Beliau sangat mendukung para misionaris Indonesia yang cukup banyak di Perú, Ekuador dan Bolivia. Mereka tidak hanya menjadi misionaris Katolik tetapi juga orang Indonesia yang mendedikasikan hidupnya bagi kemanusiaan.
Dalam perayaan Pesta Perak Hidup Membiaranya, Sr. Patricia, PIJ menerima
plakat dari Hermandad de Santa Rosa de Lima y San Martin de Porres yang mendedikasikan dirinya dalam misi kemanusiaan untuk melayani orang-orang miskin. Suatu penghargaan yang sungguh membanggakan sebagai seorang suster dan juga sebagai orang Indonesia.
Tulisan:
Sdr Benedicto Kalakoe, seorang Indonesia yang bermukim di Peru, Lima
