Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Sulitnya Memaafkan

Saturday, January 28th, 2012

Pagi yang indah. Usai membuka tirai jendela kamar, Dewi masih sempat menatap mawar-mawar indah yang bermekaran di bawah jendela kamarnya. Hari ini hari pertama ia ada di rumah pada hari kerja, setelah sekian tahun ia berkantor di sebuah gedung megah di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat.

Peristiwa menyakitkan yang ia terima di kantor, yang membuatnya “terpental” dan harus keluar dari pekerjaan, masih seperti rekaman video yang terus berputar ulang di benaknya. Duh, siapa yang tak sakit hati menerima fitnah untuk suatu kesalahan yang tidak ia lakukan? Siapa yang tidak sakit hati menerima limpahan kesalahan orang lain yang hanya mencari kambing hitam untuk menyelamatkan posisinya sendiri? “Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa tidak ada orang yang mempercayai aku, dan malah mempercayai orang lain yang tidak jujur meski ia memang lebih pintar berkata-kata? Sakit sekali rasanya hati ini.”

Tentu saja sakit sekali. Menjadi “pesakitan” untuk kesalahan yang tidak kita lakukan adalah hal yang sulit kita terima. Boro-boro memaafkan apalagi mendoakan orang yang menyakiti, kalau bisa rasanya ingin membalas sakit hati itu dengan balik menyakiti sesakit-sakitnya. Biar dia juga tahu, betapa tidak enaknya apa yang kita rasakan akibat ulahnya.

Tapi, tunggu dulu. Bukankah kita adalah milik Kristus. Apa bedanya kita dengan orang-orang lain yang tidak pernah mengenal Kristus, kalau kita juga berlaku sama seperti mereka… menyimpan dan membalaskan dendam dan sakit hati? Apa gunanya bahkan sekadar memaki dan melontarkan sumpah serapah setiap kali ingatan yang menyakitkan itu mendera? “Allah, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan…” Itulah teladan yang kita terima.

Pandanglah salib yang telah menjadi tanda kemenangan kita. Kristus pun harus menerima penderitaan yang hebat, menerima hukuman yang begitu keji, untuk kesalahan yang tidak pernah Ia lakukan. Apakah Ia mengeluh? Apakah Ia memaki-maki orang-orang yang menyiksa dan memakunya di kayu salib? Apakah Ia mengutuk dan membalas dendam untuk segala penderitaan yang harus Ia terima? Bukankah teladan yang Ia berikan sudah begitu jelas?

Dewi menghela napas. Setiap kali rasa “sakit” itu kembali mendera, tanpa ditunda lagi ia segera bersujud di hadapan-Nya. “Ah, lihatlah derita-Nya yang tak terbayangkan. Sungguh, apa yang kurasakan ini tidaklah seberapa,” ujarnya dalam hati. Ia telah menghapusnya dengan bilur-bilur mengerikan yang harus ia tanggung.

Berdoalah agar engkau bisa memaafkan orang yang telah menyakitimu. Meski sulit, buah dari hal itu adalah rasa lega dan bebas yang akan membuatmu mampu merasakan sukacita yang penuh akan kasih-Nya.