Headlines

Indahnya Bersyukur

KTM Rayakan Pesta Perak

Semangat Salelei, Penderita DMP



Indahnya Bersyukur

Posted in: Salam | Comments (0)

Seorang Romo menceritakan kisah ini. Alkisah ada sepasang suami istri. Sampai usia 80 tahun, pasangan ini hidup makmur, harta mereka berlimpah dan mereka hidup bahagia. Tapi selama 5 tahun terakhir, sang suami sakit. Biaya yang diperlukan untuk mengobati sakitnya sangat besar, sehingga harta milik mereka lama-lama tergerogoti. Kemalangan rupanya belum berakhir karena satu-satunya anak yang dimiliki pasangan ini juga meninggal dunia.

Dalam keadaan sedih, sang istri memohon agar suaminya berdoa memohon kepada Allah yang selama ini telah begitu bermurah hati kepada mereka, untuk memulihkan segala yang baik yang pernah mereka rasakan. Sang suami termenung. Dengan penuh kasih ia menatap istrinya dan mengatakan, “Istriku, berapa lama kita sudah mengalami kemakmuran dan kelimpahan?” “Sampai usiamu yang ke-80, suamiku,” jawab istrinya. “Itu artinya, selama 80 tahun aku telah menikmati segala yang baik, dan kalau selama 5 tahun terakhir ini aku mengalami segala hal yang buruk dalam hidupku, itu belumlah seberapa dibanding masa-masa menyenangkan yang telah kulewati. Aku malu kalau harus mengeluh kepada Tuhan,” kata sang suami seraya menggenggam tangan istrinya. Sang istri mengusap air mata, memandang suaminya, dan mengatakan, “Kamu benar, suamiku. Kita tidak seharusnya mengeluh. Justru seharusnya kita bersyukur, karena dalam semua kesedihan ini, kita jadi begitu dekat dengan Tuhan.”

Bersyukur. Itulah yang harus selalu kita lakukan. Bukan hanya dalam keadaan senang, tetapi juga dalam keadaan susah. Sama seperti Tuhan kita yang menderita dan disebut “The Man of Sorrow”. Begitulah sebagai pengikutnya kita juga harus siap menderita. Apapun bentuk penderitaan yang kita alami: Sakit yang tak kunjung sembuh, hutang yang tak kunjung lunas, karier yang mentok, fitnah yang tak terduga ternyata harus diterima – semua itu tidak sepatutnya membuat kita menjauh dari Tuhan, atau bahkan menghujat-Nya. Sebaliknya… itulah cara Dia untuk menarik kita lebih dekat kepada-Nya. Pandanglah wajah-Nya yang penuh cinta. Percayalah, dalam keadaan apapun, Ia tetap mengasihi kita dan tidak akan pernah membiarkan kita melalui segalanya sendirian.

Tuhan memberkati.

admin @ January 18, 2012

KTM Rayakan Pesta Perak

Posted in: Kilas Kabar | Comments (0)

Pekan lalu suasana lebih meriah terasa menyelimuti Lembah Karmel, Cikanyere, Jawa Barat. Januari ini Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) merayakan ulang tahunnya yang ke-25. Perayaan Pesta Perak tersebut dihadiri oleh lebih dari 1.000 anggota KTM dari berbagai pelosok tanah air, dan bahkan dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Filipina, Belanda, dan Australia. Selain itu, hadir pula Uskup Banjarmasin, Mgr. Dr. Petrus Boddeng Timang.

Menurut anggota Tim Gembala KTM, Giovanny Karamoy, KTM terlahir pada masa yang sulit, ketika banyak hal bertentangan dengan iman Katolik. Perhatian banyak orang tersedot pada “kebutuhan-kebutuhan duniawi”, sehingga sulit memberi waktu pada kegiatan-kegiatan rohani. Bersyukur meski di tengah situasi seperti ini KTM tetap mampu eksis hingga usianya yang ke-25.

KTM didirikan oleh Rm. Yohanes Indrakusuma O.Carm., sebagai komunitas awam yang menghayati spiritualitas karmelit dan karismatik di tengah hiruk pikuk dunia saat ini. Komunitas ini terlahir dalam suatu retret yang diadakan pada 9-11 Januari 1987 di Ngadireso, Malang. Terinspirasi dari komunitas Kristiani pertama (Kis 2:41-47), komunitas ini pun berusaha menghayati hidup Kristiani yang sejati berdasarkan misteri agung cinta Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

Melalui komunitas ini diharapkan para anggotanya dapat tumbuh dan terus berkembang dalam hidup baru dalam Roh di tengah zaman yang terus berubah dan penuh tantangan. Hidup dan karya KTM pun dijiwai oleh spiritualitas Pembaharuan Hidup dalam Roh (karismatik) sehingga selalu berupaya untuk mengandalkan bimbingan dan kuasa Roh Kudus. Dan karena terlahir dan dibesarkan dalam iklim Karmel, maka KTM juga menghayati spiritualitas Karmelit dengan hidup keheningan dan kontemplasi-nya. Kedua spiritualitas itulah yang menjadi satu kesatuan dan memperkaya kehidupan KTM.**

admin @ January 17, 2012

Semangat Salelei, Penderita DMP

Posted in: Inspirasi | Comments (0)

Wanita separuh baya itu asyik menyulam. Sesekali ia mengambil ponsel yang terletak di sisinya, menjawab sms yang masuk, atau sesekali ia sendiri yang mengirim sms kalau tiba-tiba ia rindu, teringat pada teman-temannya. Ya, menyulam dan berkirim sms, itulah hiburan Christin Salelei saat ini. Di usianya yang ke-45, tidak banyak lagi yang bisa ia lakukan karena keterbatasan fisiknya.

Salelei berasal dari Mentawai. Salelei kecil diambil oleh dua suster asal Italia: Sr. Caroline dan Sr. Rosa. Sr. Caroline-lah yang sekarang menemani Salelei tinggal di Rumah Suster, di Jl. A. Yani, Padang. Suster yang lain, Sr. Rosa, sudah meninggal beberapa tahun lalu. Oleh kedua suster itu, Salelei disekolahkan sampai tamat SMP. Selepas SMP, ia sempat kembali ke Mentawai sebelum akhirnya pindah ke Padang sampai sekarang.

Sejak lahir, Salelei mengalami penolakan dari keluarganya karena fisiknya yang cacat. Menurut dokter, ia menderita DMP (Distrofia Muskulorum Progresiva) yang lebih umum disebut Otot Layu. Penyakit ini akan membuat penderitanya kehilangan fungsi otot sejak umur belasan tahun, terutama di kaki, tulang panggul, dan bahu. Pada umumnya penderita penyakit ini tidak bisa bertahan hidup lama, rata-rata hanya mencapai umur sekitar 20 tahun. Puji Tuhan! Salelei bisa tetap hidup sampai sekarang, hanya kaki dan bahunya sudah layu.

Sekarang ini, gerakan aktif hanya bisa ia lakukan pada pergelangan tangan dan jari-jarinya. Beruntung ia memiliki teman-teman suster yang terus memberinya semangat untuk tetap melatih jari-jarinya dengan menyulam/merajut. Kadang-kadang ada pesanan kaos kaki bayi, tetapi kadang-kadang juga tidak ada pesanan sama sekali. Kalau sedang tak ada pesanan, ia membuat tirai dengan sulaman renda untuk menghiasi jendela-jendela rumah suster.

Salelei juga memiliki PC tua yang tidak bisa untuk internet. Tapi ia sadar, kalau ia asyik internet-an, mungkin ia tidak akan punya banyak waktu lagi untuk menyulam. Padahal, ia perlu menjual hasil sulamannya untuk tambahan biaya hidup sehari-hari. Meski terlahir tak sempurna, Salelei berprinsip untuk tetap berusaha mencari penghasilan sendiri dengan menyulam. Satu sulaman tirai, misalnya, membutuhkan waktu sekitar 4 bulan. Bisa dibayangkan berapa besar waktu dan tenaga yang harus ia keluarkan untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Untuk urusan mandi, berpakaian, menyisir, dan lain-lain, Salelei dibantu oleh seorang gadis muda bernama Agnes Bone (24) dan Sr. Widya (60). Menurut Sr. Widya, baru beberapa tahun ini Salelei mau memakai kursi roda untuk memudahkan aktivitas sehari-hari. Sr. Widya juga bercerita kalau keluarga Salelei enggan mengunjunginya sampai sekarang.

Sampai saat ini sebagian besar biaya hidup Salelei ditanggung oleh Sr. Caroline, yang memperoleh sedikit subsidi dari Keuskupan dan mendapat bantuan dari adiknya di Italia. Sr. Caroline sekarang ini sudah berusia 83 tahun, namun ia masih cukup gesit dengan tulang punggung yang sudah bongkok. Sungguh menyentuh melihat kesediaan para suster merawat Salelei yang praktis bahkan untuk ke toilet pun ia perlu dibantu.

Melihat kondisi Salelei, sungguh kita sangat bersyukur karena terlahir sehat dan sempurna di tengah keluarga yang mengakui kehadiran kita. Tak terbayangkan bagaimana kehidupan Salelei (atau orang-orang seperti dia yang mungkin entah ada berapa banyak di dunia ini) bisa berjalan tanpa campur tangan orang lain yang bersedia mengasihi dan merawatnya dengan penuh kasih. Kasih tanpa syarat, yang hanya memberi dan tak berharap untuk menerima balasan.

Melihat teladan para suster, kita diingatkan untuk bisa memberikan perhatian dan kasih kepada sesama. Kita juga diingatkan untuk bisa menerima dan mengasihi orang-orang di sekitar kita – orang tua, saudara kandung, pasangan hidup, anak, bahkan hingga pembantu, supir, dll, yang dengan segala keterbatasan mereka mungkin membutuhkan bantuan kita, baik moril, maupun materil.

Selagi bisa, selagi masih ada kesempatan, selagi Tuhan masih memberikan nafas kehidupan kepada kita, jangan tunda untuk sedikit berbagi. Mungkin tak harus selalu dengan materi. Uluran persahabatan dengan sekadar berkirim sms, atau sebentuk perhatian dengan menelepon untuk menanyakan kabar, mungkin sudah sangat berarti bagi orang-orang terdekat kita, juga bagi Salelei. **

Seperti diceritakan oleh Henny Tandiwidjojo dan Susi Redjeki, dua teman SMP Christin Salelei.

Maju terus dalam karya kasih-Nya! Uluran kasih untuk Salelei bisa dikirimkan ke: Bank Permata Tab. Optima a/n. Sr. Cecilia Widyaningsih a/c No. 4002177280. SMS Salelei: 081374410035.

admin @ January 12, 2012